Pola makan vegan untuk hewan peliharaan
Dari Veganpedia, ensiklopedia vegan gratis
Daftar isi (7)
Memberi hewan peliharaan pola makan vegan masih diperdebatkan. Anjing adalah omnivora dan bisa tumbuh baik dengan pakan lengkap yang diformulasikan di bawah arahan dokter hewan; kucing adalah karnivora obligat, sehingga pemberian pakan nabati jauh lebih diperdebatkan.
Fakta singkat
- Anjing
- Omnivora; pakan lengkap yang diformulasikan dimungkinkan
- Kucing
- Karnivora obligat; pola makan sangat diperdebatkan
- Zat gizi kunci untuk kucing
- Taurin, asam arakidonat, vitamin A
- Wajib
- Pengawasan dokter hewan
- Hewan peliharaan herbivora alami
- Kelinci, marmut
Pola makan vegan untuk hewan peliharaan berarti memberi hewan pendamping, paling sering anjing dan kucing, makanan yang sama sekali tidak mengandung bahan dari hewan. Topik ini terus menjadi bahan diskusi di antara dokter hewan, ahli gizi hewan, dan para vegan. Sebagian vegan memandang pakan hewan konvensional bertentangan dengan penolakan etis mereka terhadap peternakan hewan (lihat veganisme etis dan peternakan industri), sementara banyak profesional kedokteran hewan menekankan bahwa kebutuhan gizi hewan peliharaan harus diutamakan dan bahwa pola makan apa pun harus lengkap dan seimbang.
Artikel ini merangkum argumen-argumen utamanya. Artikel ini bukan pengganti saran dari dokter hewan yang berkualifikasi.
Latar belakang
Pakan hewan peliharaan secara tradisional mengandalkan daging, ikan, dan produk sampingan hewani. Pakan hewan vegan komersial mulai tersedia pada akhir abad ke-20 dan sejak itu terus berkembang, seiring meningkatnya perhatian pada jejak lingkungan pakan hewan dan kesejahteraan hewan yang dipakai untuk membuatnya.
Para ahli gizi umumnya menekankan bahwa hewan membutuhkan zat gizi tertentu, bukan bahan makanan tertentu. Pada prinsipnya, zat gizi ini bisa berasal dari tumbuhan, mineral, atau sumber sintetis, asalkan pola makan secara keseluruhan menyediakan setiap zat gizi yang diperlukan dalam jumlah yang tepat dan dalam bentuk yang bisa dimanfaatkan hewan tersebut. Pertanyaan praktisnya adalah apakah suatu pola makan berhasil memenuhinya.
Anjing
Anjing umumnya dianggap sebagai omnivora. Selama proses domestikasi, mereka beradaptasi untuk mencerna pati lebih efisien dibanding serigala, dan mereka mampu menyintesis beberapa zat gizi yang tidak bisa dibuat kucing.
- Banyak ahli gizi hewan menganggap anjing bisa dipelihara dengan pola makan nabati jika pakannya lengkap secara gizi dan diformulasikan dengan cermat.
- Pakan komersial yang menyatakan memenuhi standar gizi yang diakui, seperti yang ditetapkan AAFCO di Amerika Serikat atau FEDIAF di Eropa, umumnya dianggap sebagai pilihan yang lebih aman dibanding pakan buatan sendiri.
- Pakan nabati buatan sendiri memiliki risiko kekurangan gizi yang lebih tinggi dan sebaiknya hanya dipakai dengan resep yang diformulasikan oleh ahli gizi hewan yang berkualifikasi.
- Beberapa survei berdasarkan laporan pemilik menunjukkan bahwa anjing yang diberi pakan vegan tidak kalah sehat dibanding yang diberi pakan berbasis daging, tetapi studi semacam ini bergantung pada laporan pemilik, dan banyak dokter hewan menyerukan penelitian terkontrol jangka panjang yang lebih ketat.
Kekhawatiran yang kadang muncul antara lain kualitas protein yang memadai, taurin dan L-karnitin pada ras tertentu, serta kemungkinan kaitan antara sebagian pakan bebas biji-bijian dan kaya kacang-kacangan dengan penyakit jantung yang disebut kardiomiopati dilatasi, yang masih diselidiki dan belum terjawab.
Kucing
Kucing adalah karnivora obligat, artinya mereka berevolusi untuk bergantung pada zat gizi yang secara alami terdapat dalam jaringan hewan. Kucing membutuhkan antara lain:
- Taurin – asam amino yang penting untuk kesehatan jantung dan mata.
- Asam arakidonat – asam lemak yang tidak dapat dibuat kucing dalam jumlah cukup.
- Vitamin A siap pakai (preformed) – kucing tidak bisa mengubah beta-karoten dari tumbuhan menjadi vitamin A.
- Protein dalam jumlah tinggi dan asam amino tertentu.
Zat-zat gizi ini bisa dibuat secara sintetis dan biasa ditambahkan ke pakan kucing konvensional maupun vegan. Para pendukung berpendapat bahwa pola makan nabati yang diformulasikan dan disuplementasi dengan benar karenanya dapat memenuhi kebutuhan kucing. Para pengkritik, termasuk banyak lembaga kedokteran hewan, berpendapat bahwa bukti jangka panjangnya belum cukup, bahwa ruang kesalahannya kecil, dan bahwa kekurangan gizi bisa menyebabkan penyakit serius. Sebagian dokter hewan juga mengkhawatirkan kesehatan saluran kemih, karena pola makan memengaruhi pH urine dan kucing jantan sangat rentan mengalami penyumbatan saluran kemih.
Perdebatan ini belum selesai, dan sikap para profesional beragam. Sebagian besar sepakat bahwa jika pola makan nabati dipertimbangkan untuk kucing, pakannya harus berupa produk komersial lengkap yang memenuhi standar yang diakui, disertai pemeriksaan rutin ke dokter hewan, termasuk tes darah dan urine.
Hewan pendamping lainnya
Banyak hewan pendamping populer secara alami adalah herbivora dan memang biasa diberi pakan nabati, termasuk kelinci, marmut, cinchila, dan banyak jenis kura-kura darat. Kebutuhan makan mereka berbeda satu sama lain, dan pakan yang sesuai untuk setiap spesies sangatlah penting.
Pertimbangan etis
Para vegan memiliki beragam pandangan tentang hewan pendamping:
- Sebagian memberi pakan hewan konvensional, dengan memprioritaskan kesehatan dan kebutuhan alami hewan.
- Sebagian memberi anjing pakan nabati di bawah pengawasan dokter hewan, sementara kucing diberi pakan konvensional.
- Sebagian memilih mengadopsi hewan herbivora.
- Sebagian menjajaki alternatif seperti pakan hewan berbahan serangga atau daging budidaya sel (cultivated meat), yang statusnya dalam veganisme masih diperdebatkan.
Banyak vegan menekankan pentingnya mengadopsi hewan dari penampungan dan suaka hewan alih-alih membeli dari peternak (breeder). Diskusi tentang etika memelihara hewan juga berkaitan dengan spesiesisme.
Rekomendasi yang umum diberikan
- Konsultasikan dengan dokter hewan sebelum mengubah pola makan hewan peliharaan.
- Gunakan pakan lengkap yang memenuhi standar yang diakui, bukan resep rumahan seadanya.
- Ubah pola makan secara bertahap.
- Pantau berat badan, kondisi bulu, energi, dan perilaku hewan, serta jadwalkan pemeriksaan kesehatan rutin.
Lihat juga
Artikel ini belum mencantumkan sumber eksternal. Tambahkan sumber tepercaya untuk membantu pembaca memverifikasinya.